Minggu, 09 Maret 2014

makalah akhlaq dan tasawuf



BAB I
PENDAHULUAN
A.     LATAR BELAKANG

Secara historis dan teologis, akhlak dapat memadu perjalan hidup manusia agar selamat di dunia dan akhirat. Tidakah berlebuihan bila misi utama kerasulan Muhammad SAW. adalah untuk menyempurnakan ahlak. Sejarah pun mencatat bahwa faktor pendukung keberhsilan dakwah beliau itu antara lain karena dukungan aklaknya yang prima, hingga hal ini dinyatakan oleh Allah dalam Al-Qur’an.
Kepada umat manusia, khususnya yang beriman kepada Allah diminta agar  akhlak dan keluhuran  budi Nabi Muhamad SAW. itu dijadikan contoh dalam kehidupan di berbagai bidang. Mereka yang mematuhi permintaan ini dijamin keselamtan hidupnya di dunia dan akhirat.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa penertian dari akhlak dan tasawuf?
2.      Ada berapa akhlak tersebut?
3.      Bagaimana sejarah munculnya tasawuf?
4.      Apa hungannya akhlak dengan tasawuf?

C.     TUJUAN
1.      Mengetahui pengertian akhlak dan tasawuf
2.      Mengetahui sejarah munculnya tasawuf
3.      Mengetahui hubungan akhlak dengan tasawuf
















BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN ILMU AKHLAK

               Dalam Kamus Besar  Bahasa  Indonesia,  kata  akhlak  diartikan sebagai  budi  pekerti  atau  kelakuan
Menurut bahasa berasal dari bahasa arab, isim masdar (bentuk intinitif) dari kata akhlaqa-yukhliqu-ikhlaqan sesuai dengan timbangan (wazan) tsulasi majid af’ala-yuf’ilu-if’alan yang berarti al-sajiyah (perangai), al-thabi’ah (kelakuan,tabi’at, waktu dasar), al-adat (kebiasaan, kelaziman), al-maru’ah (peradaban yang baik), dan al-din (agama).
Namaun dari pengertian bahasa di atas ada pendapat lain, yang mengatakan  bahwa secara bahasa kata akhlak merupakan isim jamid atau isim ghoir mustaq, yaitu isim yang tidak mempunyai akar kata, melainkan kata tersebut memang sudah demikian adanya.[1]

Untuk menjelaskan pengertian akhlak secara istilah ini kita dapat menunjuk kepada berbagai pendapat ulama’ dan cendikiawan:
1.      Ibn miskawaih (w.421 H/1030 M)
Mengartikan khuluq sebagai:
حَالٌ لِلنَّفْسِ دَاعِيَةٌ لَهَا اِلٰى اَفْعَالِهَا مِنْ غَيْرِ فِكْرٍ وَلَا رُوِيَةٍ
“Keadaan jiwa seseorang yang mendorong untuk melakukan perbuatan-perbuatan tampa melalui pertimbangan pemikiran terlebih dahulu”.
2.      Al-Ghozali ( 1059-1111 M)
Al-ghozali dalam kitab ihya’ ulum al-din  memberi pengertian khuluq, sebagai:
عِبَارَةٌعَنْ هَيْئَةٍ فِى النَّفْسِ رَاسِخَةٌ عَنْهَا تَصْدُرُ الْافْعَالُ بِسُهُوْلةٍ وَيُسْرِ مِنْ غَيْرِحَاجَةٍ اِلٰى فِكْرٍ وَرُؤْيَةٍ
“suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang dapat memunculkan perbuatan-perbuatan dengan mudah tampa memerlukan pertimbangan pemikiran”
Maksudnya: sifat atau watak yang sudah tertanam dalam hati dan telah menjadi adat kebiasaan sehinggah secara otomatis terekspresi dalam amal perbuatan seseorang.
3.      Ibrahim Anis
Dalam kitab al-mu’jam ibrahim anis mengatakan
حَالٌ لِلنَّفْسِ رَاسِخَةٌ تَصْدُرُ عَنْهَا الْاَفْعَالُ مِنْ خَيْرٍ اَوْ شَرٍّ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ اِلٰى فِكْرٍ وَرُؤْيَةٍ

“sifat yang tertanam dalam jiwa, yang melahirkan bermacam-macam perbuatan, baik atau buruk, tampa membutukan pemikiran pertimbangan.”
Dan masih banyak lagi para para ulama’ yang mengartikan akhlak dalm kitab”nya.
Menurut abuddin nata, berdasarkan penjelasan para ulama’ di atas tersebut, setidaknya ada lima ciri-ciri akhlak
1.      Akhlak adalah perbuatan yang telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang dan telah menjadi bagian dari kepribadian.
2.      Akhlak adalah perbuatan yang di lakukan dengan mudah dan tampa pemikiran.
3.      Akhlak adalah perbuatan yang timbul dari dalam diri orang yang mengejarkannya tampa ada tekanan dan paksaan dari luar.
4.      Akhlak adalah perbuatan yang dilakukan secara sungguh-sungguh.
5.      Perbatan yang dilakukan secara ikhlas semata-mata karena allah bukan karena ingin di puji.[2]
a.       Ruang lingkup pembahasan ilmu akhlak

Jika definisi tentang ilmu akhlak tersebut kita perhatikan dengan sesama, akan tampak bahwaruang lingkup pembahasan ilmu akhlak adalah  membahas tentang perbuatan-perbuatan manusia, kemudian menetapkannya aakah perbuatan tersebut tergolong perbuatan yang baik atau perbuatan yang buruk. Dengan demikian obyek  pembahasan ilmu akhlak berkaitan dengan norma-norma/penilaian terhadap suatu perbuatan yang di lakukan seseorang.
Pokok-pokok masalah yang dibahas dalam ilmu akhlak pada intinya adalah perbuatan manusia, kemudian menetapkanya kreteria apakah baik atau buruk. Dalam hubungan ini Ahmad Amin mengatakan sebagai berikut: “bahwa obyek ilmu akhlak adalah membahas perbuatan manusia yang selanjutnya perbuatan tersebut di tentukan baik atau perbuatan buruk.[3]
b.      Manfaat mempelajari ilmu akhlak[4]
Ahamad amin mengatakan: “tujuan mempelajari ilmu akhlak dan permasalahannya menyebabkan kita dapat menetapkansebagian perbuatan lainya apakah itu baik dan apakah perbuatan tersebut tidak baik”.
Bersikap adil termasuk baik sedangkan perbuatan nzdalim  termasuk perbuatan buruk, membayar hutang kepada pemiliknya termasuk perbuatan baik sedangkan mengingkari utang termasuk perbuatan buruk.
Menurut musthofa zahri tujuan mempelajari ilmu akhlak untuk membersikan kalbu dari kotoran-kotoran hawa nafsudan amara sehinggah hati menjadi bersi dan suci, bagaikan cermin yang dapat menerima nur dari cahanya tuhan.
Keterangan tersebut memberikan petunjuk bahwa ilmu akhlak berfungsi memberikan panduan pada manusia agar mampu menilai dan menentukan suatu perbuatan untuk selanjutnya menetapkan bahwa perbuatan tersebut termasuk perbuatan baik apa termasuk perbuatan buruk.
Selain itu ilmu akhlak juga akan berguna secara efektif dalam upanya membersikan dari perbuatan dosa dan ma’siat. Di ketahui bahwa manusia memiliki jasmani dan rohani, jasmani di bersikan secara lahiriyah melalui fiqih, sedangkan rohani dibersikan secara batiniah melalui akhlak.
Ilmu akhlak juga berguna dalam mengarakan dan mewarnai berbagai aktifitaskehidupan manusia di segalah bidang. Seseorang yang memiliki ilmu pengetahuan  dan teknologi yang maju yang disertai dengan akhlak mulia, niscanya ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang ia miikinya itu akan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kebaikan hidup di dunia.
Dengan demikian secara ringkas dapat dikatakan bahwa ilmu akhlak bertujuan untuk memberikan pedoman atau penerangan bagi manusia dalam mengetahui perbuatan baik atau perbuatan buruk, dalam perbuatan baik maka dia akan berusaha berbuat
c. Akhlak Kepada Allah

               Titik  tolak  akhlak  terhadap  Allah  adalah  pengakuan   dan kesadaran  bahwa  tiada  Tuhan  melainkan  Allah. Dia memiliki sifat-sifat terpuji; demikian agung sifat itu, yang  jangankan manusia, malaikat pun tidak akan mampu menjangkau hakikat-Nya.(2) 
               Itulah sebabnya mengapa Al-Quran  mengajarkan  kepada  manusia untuk    memuji-Nya,   Wa   qul   al-hamdulillah   (Katakanlah "al-hamdulillah"). Dalam  Al-Quran  surat  An-Nam1  (27):  93, secara tegas dinyatakan-Nya bahwa, 
Dan katakanlah, "Segala puji bagi Allah, Dia akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kebesaran-Nya, maka kamu akan mengetahuinya. Dan Tuhanmu tiada lalai dari apa yang kamu

B.     PENGERTIAN TASAWUF[5]
Secara lughat, “tasawuf” berasal dari beberapa kata. Menurut hamka dalam buku taawuf modern, tasawuf berasal dari berbagai kata seperti.[6]

Dr. Rohman Anwar,m.Ag. dan Dr. Muktar sholihin,m,Ag secara etimonologi menjelaskan pengertian tasawuf. Tasawuf dapat dilihat menjadi beberapa macam pengertian.
1.      Tasawuf berasal dari istilah yang di konotasikan dengan ahlu suffah artinya sekelompok orang di masa rosululllah hidupnya banyak di habiskan dalam masjid-masjid dengan mengabdikan hidupnya untuk beribada kepada allah swt.
2.      “shafa” yang berarti sebagai nama orang-orang yang bersi atau suci
3.      “shaf” dinisbatkan kepada orang yang sholat slalu berada di shaf paling depan
Pengertian menurut istilah telah banyak dirumuskan oleh ahli satu dengan yang lain, diantaranya:
1.      Menurut Al-junairi ketika ditanya tentang tasawuf  juairi menjawab.” Memasuki segalah budi akhlak yang bersifat sunni dan keluar dari budi pekerti rendah”.
2.      Menuurut Al-junaidi dalam ungkapan lain adalah beserah kepada allah tampa adanya penghubung. Bahwa yang haq adalah yang mematikanmu dan yang haqlah yang menghidupkanmu.
3.      Menurut muhammad ali Al-Qossab. Tasawuf adalah akhlak yang mulia yang timbulpada masa yang mulia dari seorang yang mulia diantara kaumnya yang mulia.
4.      Menurut syamnun ia mengatakan “tasawuf adalah bahwa engkau memiliki sesuatu dan tak dapat memiliki sesuatu.
5.      Harun Nasution dalam bukunya falsafat dan Mistisme dalam islam menjelaskan bahwa, tashawwuf atau sufisme mempelajari cara dan jalan bagaimana seorang islam bisa sedekat mungkin dengan tuhan”.
a.       Dasar-dasar tasawuf dalam Al-qur’an dan hadits
·         Landasan Al-Qur’an
Al-qur’an dan as-sunnah adalah nas, setiap muslim kapan dan dimanapun di bebani tanggung jawab untuk memahami dan melaksanakan kandungannya dalam bentuk amalan yang nyata.
Al-Qur’an merupakan kitab allah yang merupakan yang di dalamnya terkandung muatan-muatan ajaran islam, baik aqidah syari’ah maupun maawwalah. Ke-3 muatan tersebut banyak tercermin dalam ayat-ayat yang termaktub dalam Al-Qur’an.
·         Landasan hadits
Sejalan dengan apa yang disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai mana telah dijelaskan di atas, tasawuf juga dapat dilihat dalam kerangka hadits. Dalam hadits rosulullah banyak di jumpai keterangan yang berbicara tentang kehidupan rohaniah manusia.
Berikut ini beberapa muatan hadits yang dapat di fahami dengan pendekatan tasawuf.


Artinya. “barang siapa yang mengenal dirinya sendiri berarti ia mengenal tuhannya”.


Artinya. ”aku adalah pendaharaan yang tersembunnyi maka aku menjadikan mahkluk agar mereka mengenalku”.
Dari uraian dasar tasawuf di atas, baik Al-Qur’an atau AL-Hadits maupun teladan dari para sahabat merupakan benih-benih tasawuf dalam kedudukkannyasebagai ilmu tentang tingkatan (makomah) dan keadaan (ahwal).

b.        sejarah perkembangan ilmu tasawuf[7]

Sebenarnya kehidupan sufi sudah terdapat pada diri Nabi Muhammad saw. Dimana dalam kehidupan beliau sehari-hari terkesan amat sederhana dan menderita, disamping menghabiskan waktunya untukk beribadah dan selalu mendekatkan diri kepada Allah swt. Bahkan seperti diketahui, bahwa sebelum beliau diangkat sebagai Rasul Allah, beliau seringkali melakukan kegiatan shufi dengan melakukan uzlah di Gua Hira selama berbulan-bulan lamanya sampai beliau menerima wahyu pertama saat diangkat sebagai Rasul Allah. Setelah Beliau resmi diangkat sebagai Nabi utusan Allah, keadaan dan cara hidup beliau masih ditandai oleh jiwa dan suasana kerakyatan, meskipun beliau berada dalam lingkaran keadaan hidup yang serba dapat terpenuhi semua keinginan lantaran kekuasaannya sebagai Nabi yang menjadi kekasih Tuhan-Nya. Pada waktu malam sedikit sekali tidur, waktunya dihabiskan untuk bertawajjuh kepada Allah dengan memperbanyak dzikir kepada-Nya. Tempat tidur beliau terdiri dari balai kayu biasa dengan alas tikar dari daun kurma, tidak pernah memakai pakaian yang terdiri dari wool, meskipun mampu membelinya. Pendek kata beliau lebih cinta hidup dalam suasana sederhana ( meskipun pangkatnya Nabi ) Daripada hidup bermewah-mewah.
Akan tetapi banyak para ahli sejarahmemulai Sejarah tasawuf dengan Imam Ja’far Al Shadiq ibn Muhamad Bagir ibn Ali Zainal Abidin ibn Husain ibn Ali ibn Abi Thalib. Imam Ja’far juga dianggap sebagai guru dari keempat imam Ahlulsunah yaitu Imam Abu Hanifah, Maliki, Syafi’i dan Ibn Hanbal.
Ucapan – ucapan Imam Ja’far banyak disebutkan oleh para sufi seperti Fudhail ibn Iyadh Dzun Nun Al Mishri, Jabir ibn Hayyan dan Al Hallaj. Diantara imam mazhab di kalangan Ahlulsunah, Imam Maliki yang paling banyak meriwayatkan hadis dari Imam Ja’far.
Kaitan Imam Ja’far dengan tasawuf, terlihat dari silsilah tarekat, seperti Naqsyabandiyah yang berujung pada Sayyidina Abubakar Al Shidiq ataupun yang berujung pada Imam Ali selalu melewati Imam Ja’far.
Kakek buyut Imam Ja’far, dikenal mempunyai sifat dan sikap sebagai sufi. Bahkan (meski sulit untuk dibenarkan) beberapa ahli menyebutkan Hasan Al Bashri, sufi-zahid pertama sebagai murid Imam Ali. Sedangkan Ali Zainal Abidin (Ayah Imam Ja’far) dikenal dengan ungkapan-ungkapan cintanya kepada Allah yang tercermin pada do’anya yang berjudul “Al Shahifah Al Sajadiyyah”. Tasawuf lahir dan berkembang sebagai suatu disiplin ilmu sejak abad k-2 H, lewat pribadi Hasan Al Bashri, Sufyan Al Tsauri, Al Harits ibn Asad Al Muhasibi, Ba Yazid Al Busthami. Tasawuf tidak pernah bebas dari kritikan dari para ulama (ahli fiqh, hadis dll).
Praktik – praktik tasawuf dimulai dari pusat kelahiran dan penyiaran agama Islam yaitu Makkah dan Madinah, jika kita lihat dari domisili tokoh-tokoh perintis yang disebutkan di atas.


c.     hubungan akhlak dengan tasawuf:
Akhlak dan Tasawuf saling berkaitan. Akhlak dalam pelaksanaannya mengatur hubungan horizontal antara sesama manusia, sedangkan tasawuf mengatur jalinan komunikasi vertikal antara manusia dengan Tuhannya (Allah). Akhlak menjadi dasar dari pelaksanaan tasawuf, sehingga dalam prakteknya tasawuf mementingkan akhlak.










BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
               Dalam Kamus Besar  Bahasa  Indonesia,  kata  akhlak  diartikan sebagai  budi  pekerti  atau  kelakuan.  Kata  akhlak walaupun terambil dari  bahasa  Arab  (yang  biasa  berartikan  tabiat, perangai  kebiasaan,  bahkan  agama),  namun  kata seperti itu tidak ditemukan dalam Al-Quran. Yang ditemukan
Jika definisi tentang ilmu akhlak tersebut kita perhatikan dengan sesama, akan tampak bahwaruang lingkup pembahasan ilmu akhlak adalah  membahas tentang perbuatan-perbuatan manusia, kemudian menetapkannya aakah perbuatan tersebut tergolong perbuatan yang baik atau perbuatan yang buruk.
Tasawuf secara umum adalah falsafah hidup dan cara tertentu dalam tingkah laku manusia dalam upayanya merealisasikan kesempurnaan moral,pemahaman,tentang hakekat realitas dan kebahagiaan kerohanian.


B.     SARAN
Kita sebagai orang muslim maka marilah kita membentuk akhlak dalam kehidupan kita sehari-hari ini dengan akhlak yang baik agar orang yang ada di sekeliling kita menjadi senang dengan tingkah kita yang baik.












DAFTAR PUSTAKA

Nata, Abuddin. Akhlak Tasawuf, Jakarta, RajaGrafindo Persada. 2010

Solihin,M dan Anwar, rosid M. Akhlak tasawuf manusia, etika dan makna hidup.nuasan.1 juni 2005


[1] Dr. M. Solihin,akhlak tasawuf, hal 18
[2]Dr. M. Solihin,akhlak tasawuf, hal 19
[3]Dr. M. Solihin,akhlak tasawuf, hal 60
[4]Dr. M. Solihin,akhlak tasawuf, hal 61
[5]Dr. M. Solihin,akhlak tasawuf, hal 147
[6]Kamus bhs indonesia
[7]Nata, Abuddin. Akhlak Tasawuf, Jakarta, RajaGrafindo Persada. 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar